Prancis memastikan akan mengirim tentara, radar, dan sistem pertahanan ke Yanbu, terminal minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah, di tengah gelombang serangan rudal dan drone kelompok Houthi Yaman yang terus meningkat. Kepastian itu disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Jumat (25/9/2026), sehari setelah pasukan Saudi mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan dari Yaman.
Kepada stasiun televisi TF1 dan France 2, Macron menegaskan pengerahan tersebut bersifat defensif. "Bukan untuk melibatkan diri dalam konflik apa pun, melainkan untuk melindungi lokasi itu," ujarnya, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Yanbu Jadi Sasaran, Makkah Sempat Masuk Peringatan
Menurut laporan AFP yang dikutip CNA, koalisi pimpinan Saudi menyatakan enam rudal balistik berhasil dicegat pada Kamis (24/9/2026) sehingga menggagalkan serangan ke Taif dan Yanbu. "Eskalasi dan pelanggaran oleh milisi teroris Houthi akan ditangani dengan tegas," tulis juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, melalui akun X miliknya.
Sebelum serangan, Pertahanan Sipil Saudi sempat mengeluarkan serangkaian peringatan singkat untuk beberapa wilayah, termasuk Makkah, kota suci umat Islam, serta Yanbu, Taif, Jeddah, dan Tabuk. Peringatan itu dicabut beberapa menit kemudian. Houthi sendiri mengklaim telah menyerang fasilitas perusahaan minyak negara Aramco di Yanbu dan sebuah "sasaran sensitif" di Riyadh. Hingga kini otoritas Saudi belum mengonfirmasi adanya kerusakan.
Yanbu merupakan terminal ekspor minyak mentah utama Saudi di Laut Merah. Kota pelabuhan ini terhubung dengan ladang minyak di kawasan Teluk melalui pipa Timur-Barat yang mampu mengalirkan hingga tujuh juta barel per hari. Jalur tersebut selama ini dipakai Riyadh untuk mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz, yang pelayarannya dibatasi akibat perang Amerika Serikat dengan Iran.
Pakta Pertahanan Makkah dan Lonjakan Harga Minyak
Selain Prancis, sekutu regional juga merapat. Menteri luar negeri Arab Saudi, Pakistan, dan Turki bertemu pada Kamis dan sepakat menggelar "pertemuan mendesak" para kepala staf militer ketiga negara di bawah Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah, yang memperlakukan serangan terhadap satu anggota sebagai serangan terhadap semua anggota, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi. Namun, Al Jazeera mencatat pakta itu belum resmi diaktifkan, dan belum jelas langkah apa yang akan diambil Ankara maupun Islamabad, yang sama-sama berperan sebagai mediator konflik di Timur Tengah.
Di darat, pertempuran di Yaman juga memanas. Sedikitnya 150 anggota Houthi dan pasukan pemerintah Yaman tewas dalam 24 jam terakhir, menurut sumber dari kedua pihak kepada AFP, termasuk dalam perebutan perbukitan yang menghadap Selat Bab al-Mandab. Eskalasi ini bermula pada Juli lalu, ketika gencatan senjata 2022 runtuh setelah Houthi mengizinkan sebuah pesawat Iran mendarat di Sanaa.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah Teheran mengendalikan rencana tempur Houthi. "Houthi bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri," katanya kepada Fox News, sebagaimana dikutip CNA.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak Brent sempat naik lebih dari 3 persen dan menembus US$108 per barel pada Kamis, sebelum melandai ke US$105,77 pada Jumat pagi. Analis Sparta Commodities, June Goh, kepada Al Jazeera memperkirakan harga minyak akan bertahan di atas US$100 per barel selama perang dengan Iran belum berakhir.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati karena harga minyak dunia berpengaruh pada beban subsidi energi, sementara wilayah barat Saudi, termasuk Makkah dan Jeddah, menjadi tujuan utama jemaah umrah asal Tanah Air.
Sumber: Al Jazeera (https://www.aljazeera.com/news/2026/9/25/saudi-arabia-allies-line-up-support-as-houthi-attacks-mount), CNA/AFP (https://www.channelnewsasia.com/world/saudi-arabia-houthis-yemen-france-military-support-6409816)
Comments
0