Pengusiran seorang perempuan berusia 87 tahun dari apartemen yang telah ia tinggali selama 70 tahun memicu gelombang protes besar di Spanyol. Pada Sabtu (26/9/2026), puluhan ribu orang turun ke jalan di Madrid menuntut perlindungan yang lebih kuat bagi penyewa rumah, menurut laporan ABC News dan kantor berita AFP.
Perempuan itu adalah Maricarmen Abascal. Gambar dirinya digotong keluar dari flatnya di Madrid dengan tandu pada Rabu (23/9), setelah polisi mendobrak pintu, kembali menyorot krisis perumahan Spanyol menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada 2027, tulis AFP.
Sewa Naik 275 Persen hingga Pintu Didobrak
Menurut Serikat Penyewa Madrid yang dikutip AFP, Abascal terpaksa meninggalkan apartemennya setelah sebuah perusahaan properti membeli bangunan tersebut dan menaikkan sewa sebesar 275 persen menjadi 2.650 euro.
Abascal kini dirawat di rumah sakit karena kelelahan sejak diusir. Beberapa jam sebelum aksi dimulai, ia mengajak warga Spanyol bergabung lewat video yang diunggah serikat penyewa. "Saya ingin apa yang terjadi pada saya berguna agar hal ini tidak menimpa orang lain," katanya, seperti dikutip AFP. Ia juga berharap kasusnya mendorong orang untuk ikut mengubah aturan yang memungkinkan dirinya diusir.
Soal jumlah massa, angka yang beredar berbeda jauh. Otoritas pemerintah memperkirakan sekitar 25.000 orang hadir, sementara Serikat Penyewa Madrid sebagai penyelenggara mengklaim lebih dari 300.000 peserta. Situs ElConstitucional.es, mengutip Europa Press, melaporkan aksi serupa digelar serentak di 40 kota dengan slogan "Jangan ada Maricarmen lain".
Massa berjalan sambil menggemerincingkan kunci, meniup peluit, dan membawa spanduk. Salah satunya bertuliskan "Kamu bisa jadi Maricarmen berikutnya". Juru bicara Serikat Penyewa Madrid, Alicia del Rio, menyebut pengusiran itu telah memicu kemarahan dan menjadi titik balik.
Seorang pensiunan berusia 76 tahun, Maricarmen Arnedo, mengatakan kepada AFP bahwa ketika warga lanjut usia dipaksa keluar dari rumah, anak muda justru tak mampu keluar dari rumah orang tuanya. "Kami ingin harga rumah dan sewa turun," ujarnya.
Enrique Ortega de Miguel, desainer grafis berusia 38 tahun yang masih tinggal bersama ibunya, menyebut pasar perumahan Spanyol "mustahil". "Susah payah mencari tempat yang terjangkau, lalu Anda hidup dalam ketakutan akan diusir," katanya kepada AFP. Irene Lopez, insinyur berusia 33 tahun, menilai sewa sudah tidak sejalan dengan gaji dan menyebut pengusiran Maricarmen sebagai puncak kekesalan.
Tenda di Puerta del Sol dan Tekanan untuk Sanchez
Seusai aksi, sebagian aktivis mendirikan kemah protes di alun-alun Puerta del Sol, pusat kota Madrid. Wartawan AFP di lokasi melihat sekitar selusin tenda berdiri di depan kantor pemerintah regional Madrid. Menjelang Minggu dini hari, harian El Pais melaporkan jumlah tenda bertambah menjadi sekitar 150, sedangkan kantor berita EFE menyebut sekitar 100 tenda.
Perdana Menteri Pedro Sanchez yang berhaluan sosialis kian tertekan. Menurut AFP, Sanchez menyebut pengusiran Abascal sebagai "tragedi sosial yang tidak bisa kita terima." Pemerintah diperkirakan akan menyetujui paket kebijakan yang dijuluki "dekret Maricarmen" dalam rapat kabinet berikutnya, termasuk perpanjangan otomatis kontrak sewa dan pembatasan tambahan terhadap pengusiran.
Namun, belum jelas apakah paket tersebut akan lolos di parlemen, tempat pemerintahan Sanchez tidak memegang mayoritas. RUU serupa sempat kandas awal tahun ini. Para analis yang dikutip AFP menilai sewa di Spanyol melonjak akibat tingginya permintaan, termasuk dari pariwisata dan pertumbuhan penduduk terkait imigrasi, sementara stok perumahan publik sangat terbatas.
Comments
0