Sebanyak 77 delegasi negara meninggalkan atau tidak menghadiri ruang Sidang Majelis Umum PBB di New York, Kamis (24/9/2026), saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu naik ke podium, menurut laporan media. Menurut laporan Associated Press, sebagian besar kursi yang terlihat di ruang sidang kosong setelah aksi keluar massal itu.
Unggahan akun Instagram kelompok aktivis Global Intifada, gintifada_en, menyebut hanya perwakilan 24 negara, termasuk Israel, yang memilih tetap berada di ruang sidang selama pidato Netanyahu. Daftar itu memuat Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Kanada, Australia, Jepang, Korea Selatan, India, Ukraina, Argentina, Paraguay, Serbia, Finlandia, Etiopia, Guinea, Guinea-Bissau, Maroko, Uni Emirat Arab, Bahrain, Filipina, dan Thailand. Klaim tersebut belum dikonfirmasi oleh PBB maupun kantor berita independen.
Jumlah peserta aksi dilaporkan berbeda-beda. SBS News mencatat 77 delegasi keluar dari ruangan, sementara Foreign Policy menyebut lebih dari 100 delegasi meninggalkan kursi mereka. Ini menjadi tahun kedua berturut-turut Netanyahu menghadapi walk out massal di forum tersebut.
Seruan Misi Palestina
Aksi itu terkoordinasi. Misi Palestina untuk PBB sebelumnya mengirim pesan kepada banyak dari 193 negara anggota agar membawa staf sebanyak mungkin ke ruang sidang dan keluar bersama begitu nama Netanyahu diumumkan.
Menurut pesan tersebut, langkah itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tidak ada pihak yang bersedia membantu atau terlibat dalam perang di Gaza, kejahatan perang, dan pendudukan ilegal. Saat Netanyahu berjalan ke podium, sorakan, cemoohan, dan aksi keluar ruangan pecah bersamaan, sementara pimpinan sidang berteriak meminta ketertiban.
Netanyahu Sebut Mereka Pengecut Moral
Netanyahu membuka pidatonya dengan menyindir delegasi yang pergi. Jika masih ada pengecut moral yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan pergi sekarang, katanya.
Dalam pidatonya, Netanyahu menolak tuduhan genosida di Gaza dan menyebutnya kebohongan terbesar abad ini. Ia juga mengatakan menyerang Iran adalah salah satu keputusan termudah yang pernah ia ambil, dan mengklaim banyak pemimpin negara yang delegasinya keluar diam-diam berterima kasih kepada Israel.
Netanyahu turut menyerang Wali Kota New York Zohran Mamdani yang ia sebut antisemit. Mamdani membalas bahwa Netanyahu masih menjadi subjek surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pidato ini disampaikan menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober, di mana Netanyahu menghadapi persaingan ketat.
Comments
0