Sebanyak 1.143 pemukim Israel memasuki halaman kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki sejak Minggu pagi (27/9/2026), menurut data Kegubernuran Yerusalem (Jerusalem Governorate) yang dilaporkan kantor berita resmi Palestina, WAFA. Rombongan itu masuk melalui Gerbang Mughrabi (Bab al-Maghariba) di bawah pengawalan polisi Israel, bertepatan dengan hari kedua hari raya Yahudi Sukkot.
Angka tersebut terus bertambah sepanjang hari. Laporan awal yang beredar pada pagi hari, termasuk dari Roya News asal Yordania dan versi awal berita WAFA, masih menyebut 260 pemukim. WAFA kemudian memperbarui beritanya hingga jumlah yang tercatat kegubernuran mencapai 1.143 orang.
Menurut Kegubernuran Yerusalem, para pemukim menggelar doa dan ritual Talmud di dekat Gerbang Qattanin (Bab al-Qattanin) sejak pagi. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu, membentuk lingkaran tari, melakukan sujud serta menelungkupkan badan secara massal di tanah, dan membawa persembahan tanaman ke halaman masjid. WAFA mencatat, platform kelompok-kelompok Kuil (Temple groups) menyatakan polisi Israel tidak mencegah masuknya persembahan tersebut.
Rombongan pemukim masuk secara bergelombang dan dipimpin anggota Knesset (parlemen Israel) Amit Halevi. Belakangan, sekelompok rabi dari sebuah perkumpulan rabi asal Afrika Utara ikut masuk bersama puluhan pemukim dan melantunkan nyanyian Talmud di dalam kompleks, menurut kegubernuran.
Palestina Sebut Upaya Mengubah Status Quo
Kegubernuran Yerusalem menilai rangkaian aktivitas itu mencerminkan eskalasi berkelanjutan dalam pemaksaan ritual Talmud di Al-Aqsa. Dalam laporan WAFA, praktik tersebut digambarkan sebagai bagian dari "upaya mengubah realitas historis dan hukum yang berlaku" di masjid tersebut, sekaligus pelanggaran terhadap status quo.
Di bawah pengaturan status quo, non-Muslim diizinkan berkunjung ke kompleks Al-Aqsa, tetapi tidak boleh beribadah di sana. Al Jazeera, dalam artikel penjelasan tahun 2023, menulis bahwa menurut status quo versi Israel tahun 1967, Wakaf Islam yang ditunjuk Yordania mengelola urusan sehari-hari kompleks dan hanya Muslim yang boleh salat di sana, sementara polisi Israel mengendalikan akses dan keamanan. Reuters juga menggambarkan kesepakatan tak tertulis itu: non-Muslim boleh berkunjung, tetapi hanya Muslim yang boleh beribadah.
Meski demikian, Al Jazeera mencatat bahwa sejak 2017 orang Yahudi secara diam-diam dibiarkan berdoa di kompleks tersebut, menurut peneliti Eran Tzidkiyahu dari Hebrew University of Jerusalem. Jurnalis Haaretz Nir Hasson mengatakan kepada Al Jazeera, "Status quo yang dibicarakan warga Israel sama sekali berbeda dengan status quo yang dibicarakan Wakaf dan warga Palestina."
Lonjakan Sepanjang Musim Hari Raya
Gelombang kunjungan saat Sukkot terjadi sepekan setelah lonjakan pada Yom Kippur. Pusat Informasi Palestina (PalInfo), mengutip pemantauan Kegubernuran Yerusalem, melaporkan 1.678 pemukim memasuki Al-Aqsa selama dua hari, yakni Minggu dan Senin (20-21/9/2026), terdiri atas 992 orang pada hari pertama dan 686 orang pada hari kedua. Menurut PalInfo, itu jumlah tertinggi yang pernah tercatat untuk momen Yom Kippur.
Sebagai perbandingan, PalInfo mencatat angka pada momen yang sama sebanyak 659 orang pada 2021, 1.019 pada 2022, 1.159 pada 2023, dan 1.015 pada 2025. Pada 2024, tercatat 334 pemukim pada hari menjelang Yom Kippur dan tidak ada kunjungan pada hari rayanya karena bertepatan dengan hari Sabtu.
WAFA juga melaporkan, berdasarkan data Kegubernuran Yerusalem, 40.661 pemukim memasuki Al-Aqsa sejak awal tahun hingga akhir Agustus 2026. Sementara itu, keputusan pengusiran warga Yerusalem dari masjid mencapai sekitar 800 sejak awal tahun hingga awal September.
Menurut jadwal Kegubernuran Yerusalem yang dikutip PalInfo, Sukkot berlangsung pada 26 September hingga 2 Oktober, disusul Shemini Atzeret dan Simchat Torah pada 3 Oktober. Roya News melaporkan otoritas Israel juga memberlakukan penutupan total Tepi Barat dan menutup perlintasan sejak Minggu hingga Sabtu mendatang dengan alasan Sukkot.
Angka dan rincian dalam laporan ini bersumber dari pihak Palestina dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Comments
0