Tiga tahun setelah 7 Oktober 2023, banyak narasi global memulai kisah perang Gaza dari tanggal itu. Namun data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan kekerasan terhadap rakyat Palestina sudah berlangsung jauh sebelumnya. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB di wilayah Palestina yang diduduki (OCHA oPt) mencatat 6.407 warga Palestina tewas antara 2008 dan September 2023, menurut rangkuman data OCHA yang dimuat The Wire.
Pada periode yang sama, OCHA mencatat 308 warga Israel tewas dalam situasi konflik, menurut sumber yang sama. Artinya, jumlah korban tewas Palestina dalam rentang itu sekitar 20 kali lipat korban Israel.
Blokade dan Pendudukan Sebelum Perang
Data OCHA itu mencakup warga Palestina dan Israel yang tewas atau terluka di wilayah Palestina yang diduduki dan Israel dalam konteks pendudukan dan konflik, menurut laman data korban OCHA. Lembaga itu menyebut banyaknya korban sipil kerap menimbulkan kekhawatiran atas pelanggaran hukum internasional dan minimnya akuntabilitas. OCHA juga menyatakan setiap insiden baru dimasukkan ke basis datanya setelah divalidasi oleh setidaknya dua sumber independen yang andal.
Gaza sendiri sudah hidup di bawah blokade jauh sebelum perang terakhir. Al Jazeera menyebut blokade Israel atas Gaza telah berlangsung 16 tahun ketika perang pecah pada Oktober 2023, atau sejak 2007, lalu diperketat menjadi pengepungan total. The Wire mencatat Israel menarik diri dari Gaza pada 2005, tetapi pembatasan atas pergerakan warga Palestina justru bertambah.
Sepanjang periode blokade, Gaza beberapa kali digempur. Menurut The Wire, serangan Israel ke Gaza pada 2008 hingga 2009 menewaskan sekitar 1.400 warga Palestina dan 13 warga Israel. Tahun paling mematikan sebelum 2023 adalah 2014, ketika perang tujuh pekan menewaskan lebih dari 2.310 warga Palestina dan 73 warga Israel, termasuk 67 tentara. The Wire juga mengutip lembaga hak asasi manusia Israel B'Tselem yang mencatat 10.712 warga Palestina dan 1.330 warga Israel tewas sejak tahun 2000 hingga sebelum perang terakhir.
AP mencatat Hamas menggambarkan serangan 7 Oktober sebagai respons atas puluhan tahun pendudukan militer Israel, perampasan tanah, dan pembangunan permukiman. Serangan itu sendiri menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan 251 orang disandera, menurut AP dan BBC. BBC melaporkan para penyerang membakar rumah dan membunuh warga sipil di sejumlah kibbutz.
Lonjakan Korban Setelah 7 Oktober
Setelah 7 Oktober, skala korban Palestina melonjak drastis. Menurut kantor berita Palestina WAFA, korban tewas di Gaza hingga 6 Oktober 2026 mencapai 74.245 orang dan 175.267 orang terluka. Angka itu lebih dari 11 kali lipat seluruh korban tewas Palestina yang dicatat OCHA selama 2008 hingga September 2023.
Al Jazeera, mengutip Kementerian Kesehatan Palestina, mencatat sedikitnya 21.000 korban tewas adalah anak-anak. Kementerian itu hanya menghitung kematian yang tercatat di rumah sakit atau terdaftar resmi, sehingga jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena ribuan orang masih tertimbun puing atau hilang, tulis Al Jazeera. AP melaporkan angka kementerian itu dinilai umumnya dapat diandalkan oleh badan PBB dan para ahli independen.
OCHA sendiri menyatakan korban dalam permusuhan yang dimulai 7 Oktober 2023 baru akan ditambahkan ke laman datanya setelah diverifikasi secara independen. Sementara itu, angka yang dilaporkan dimuat dalam pembaruan situasi kemanusiaan lembaga tersebut.
Gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025 pun belum menghentikan kematian. WAFA melaporkan 1.462 orang tewas dan 5.151 orang terluka sejak gencatan senjata, ditambah 836 jenazah warga sipil yang berhasil ditemukan. Bagi rakyat Palestina, angka-angka ini menegaskan bahwa kekerasan tidak bermula dan tidak berakhir pada 7 Oktober, dan tuntutan atas kemerdekaan serta berakhirnya pendudukan tetap menjadi inti persoalan.
Comments
0