Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela AS pada 3 November. Lewat unggahan di Truth Social pada Kamis, 8 Oktober 2026, pukul 12.17 waktu Washington atau 23.17 WIB, Trump menulis bahwa AS "tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum Pemilu Sela".
Dalam unggahan yang sama, Trump mengklaim AS sedang melakukan "diskusi yang produktif" dengan Republik Islam Iran. Ia juga menegaskan blokade terhadap Iran tetap berlaku penuh dan menutup unggahannya dengan kalimat "IRAN TIDAK AKAN MEMILIKI SENJATA NUKLIR!"
Trump juga mengklaim minyak mengalir melalui Selat Hormuz dalam jumlah rekor, yakni 22 juta barel dalam satu malam, tanpa satu barel pun berasal dari atau menuju Iran. Klaim angka tersebut belum diverifikasi secara independen.
Perang yang Membebani Partai Republik
Menurut Reuters, AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran sejak Februari, dan perang dengan biaya sekitar 3 miliar dolar AS per bulan itu menjadi isu utama dalam kampanye pemilu sela. Reuters melaporkan tingginya harga bahan bakar dan perang Iran sangat membebani kandidat Partai Republik serta mengancam mayoritas partai itu di Kongres.
Bloomberg, seperti dimuat The Japan Times, menilai pernyataan Trump merupakan perpaduan yang tidak biasa antara isu keamanan nasional dan politik dalam negeri. Pernyataan itu muncul setelah majalah The Atlantic melaporkan Trump sempat mempertimbangkan rencana menyerang Iran sebelum pemilu sela, dan Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan opsi. The New York Times juga melaporkan para pejabat keamanan nasional Gedung Putih membahas rencana yang mencakup kampanye intensif selama tiga hari, menurut Bloomberg.
AP mencatat selama berpekan-pekan Trump mengisyaratkan eskalasi setelah pemilu sela tetap menjadi opsi dalam perang yang sudah berjalan tujuh bulan itu, meski awalnya ia menjanjikan kampanye militer yang hanya berlangsung beberapa pekan. Pernyataan terbaru Trump tidak menyinggung rencana setelah 3 November.
Negosiasi Berjalan, Serangan di Hormuz Berlanjut
Menurut AP, AS dan Iran sempat menandatangani kesepakatan sementara pada Juni untuk gencatan senjata 60 hari, tetapi kesepakatan itu runtuh dalam hitungan pekan di tengah aksi militer baru dan sengketa kendali atas Selat Hormuz. Reuters melaporkan kedua negara saling bertukar proposal dalam beberapa pekan terakhir untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat itu, sementara Trump menolak tawaran terbaru Teheran.
AP melaporkan Iran menyatakan telah menerima proposal balasan dari AS, dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Kamis mengatakan Teheran akan menyampaikan jawaban resmi dalam beberapa hari. Dalam kampanye di San Antonio, Texas, sehari sebelumnya, Trump mengatakan utusan khususnya Steve Witkoff terus melakukan negosiasi tidak langsung dengan pejabat Iran, menurut AP.
Namun keputusan menahan serangan baru datang ketika Iran justru meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, menurut Bloomberg. AP melaporkan sebagian operator tanker yang berani melintas di bawah pengawalan Komando Pusat AS memasang tarif hingga 1 juta dolar AS per hari atau lebih, menurut para analis pelayaran.
AP juga mencatat militer AS terus menambah kekuatan di kawasan. Kapal induk ketiga, USS Theodore Roosevelt, beserta ribuan tentara di dalamnya dan kapal pendamping, diperkirakan bisa tiba paling cepat akhir Oktober, menurut pejabat AS yang dikutip AP.
Comments
0