Korea Utara kembali menguji senjata dari laut. Kantor berita negara KCNA melaporkan Pyongyang menembakkan dua jenis rudal jelajah strategis yang diluncurkan dari kapal selam di perairan lepas pantai timurnya pada Rabu, 14 Oktober 2026. Uji coba ini menjadi yang terbaru dalam rangkaian peluncuran rudal selama beberapa pekan terakhir.
Menurut KCNA, seperti dikutip Al Jazeera, uji tembak itu bertujuan menguji keandalan daya tangkal perang dan meningkatkan keterampilan angkatan laut dalam menjalankan misi strategis. Salah satu rudal yang ditembakkan adalah Pulhwasal-3-31, jenis rudal jelajah strategis yang menurut Pyongyang telah diuji dari darat pekan lalu. KCNA juga menyatakan uji coba itu tidak berdampak buruk bagi keamanan negara tetangga.
Ambisi Kapal Selam yang Masih Dipertanyakan
Associated Press, dalam laporan yang dimuat NBC News, menyebut KCNA menggambarkan senjata itu sebagai strategis, yang mengisyaratkan niat untuk membekalinya dengan hulu ledak nuklir. Namun laporan itu tidak merinci apakah rudal diluncurkan dari kapal selam sungguhan atau dari platform uji bawah air.
Al Jazeera menulis bahwa Korea Utara belum diyakini memiliki kapal selam rudal modern yang beroperasi penuh, padahal hal itu menjadi prioritas militer utama Kim Jong Un. Tahun lalu, citra media pemerintah memperlihatkan kapal selam rudal bertenaga nuklir berbobot 8.700 ton yang sedang dibangun.
Menurut AP, kapal selam yang mampu beroperasi diam-diam dalam waktu lama akan mengkhawatirkan negara tetangga karena peluncurannya sulit dideteksi lebih awal. Tetapi masih ada keraguan apakah negara yang miskin dan terkena sanksi berat itu punya sumber daya serta teknologi untuk membangunnya.
Rentetan Uji Coba di Tengah Ketegangan Semenanjung
Al Jazeera mencatat Pyongyang telah menembakkan serangkaian rudal dalam beberapa pekan terakhir. Awal pekan ini Korea Utara meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah laut timur, dan pada 3 Oktober menguji rudal hipersonik jarak menengah yang dirancang menembus pertahanan rudal Korea Selatan dan Jepang. Juru bicara Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, Jang Do-young, menilai peluncuran rudal balistik itu sebagai unjuk kekuatan, karena terjadi beberapa hari setelah Seoul menguji senjata hipersoniknya sendiri di bawah pengawasan Presiden Lee Jae Myung.
Hubungan kedua Korea juga memburuk setelah ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi melukai tiga tentara Korea Selatan pada September. Penyelidikan gabungan Korea Selatan dan PBB menyimpulkan ranjau itu ditanam pasukan Korea Utara sekitar setahun sebelumnya, menurut Al Jazeera.
Di jalur diplomasi, AP melaporkan Kim sejauh ini menolak ajakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghidupkan kembali pembicaraan yang kandas pada 2019. Pyongyang menuntut Washington meninggalkan kebijakan yang disebutnya bermusuhan dan mencabut syarat denuklirisasi sebelum perundingan dimulai.
Comments
0