Pasukan Amerika Serikat meninggalkan pangkalan-pangkalan terakhirnya di Irak pada Rabu (30/9/2026), 23 tahun setelah invasi pimpinan AS menumbangkan Saddam Hussein. Menurut Reuters, penarikan yang disepakati pada 2024 di era Presiden Joe Biden itu dijalankan oleh pemerintahan Donald Trump justru ketika Washington tengah berperang dengan Iran, negara yang punya pengaruh kuat di Irak melalui kelompok-kelompok proksinya.
Situs berita militer SOFX melaporkan, seorang pejabat pemerintah Irak menyatakan pasukan AS telah menuntaskan penarikan dari pangkalan terakhir mereka sesuai tenggat 30 September. Langkah itu sekaligus mengakhiri Operation Inherent Resolve, kampanye pimpinan AS melawan kelompok ISIS. Sekitar 2.500 tentara AS masih berada di Irak sebelum penarikan, sementara militer AS belum mengeluarkan konfirmasi resmi, tulis SOFX.
Beberapa hari sebelumnya, AS dan Irak menandatangani kesepakatan penyerahan Pusat Dukungan Diplomatik milik Kedutaan Besar AS di Bandara Internasional Baghdad kepada pemerintah Irak, menurut The National. Media itu menyebut pasukan koalisi saat itu hanya tersisa di Bandara Erbil. Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menegaskan 30 September sebagai tenggat tetap dan menggambarkan masa setelah 1 Oktober sebagai babak baru bagi Irak tanpa kehadiran militer asing.
Kekhawatiran Kekosongan Keamanan
Meski kepergian pasukan AS populer di kalangan warga Irak, sebagian pihak khawatir aparat keamanan yang dilatih dan didanai AS belum mampu menjaga negara itu sendirian, lapor Reuters. Sekitar 4.500 tentara Amerika tewas selama lebih dari 20 tahun perang di Irak. Pasukan AS sempat keluar pada akhir 2011, lalu kembali kurang dari tiga tahun kemudian untuk membantu mengalahkan ISIS dalam perang 2014 hingga 2017.
"Pelajaran dari dua dekade terakhir adalah bahwa kekosongan keamanan bisa sangat berbahaya," kata Jassim al-Bahadli, analis yang menjadi penasihat pasukan keamanan Irak, kepada Reuters. Analis politik di Baghdad, Ahmed Younis, menilai kekhawatiran utama bukan intervensi langsung Iran, melainkan proksi Iran yang bisa merasa makin berani dan berupaya memperluas pengaruh di lembaga-lembaga kunci negara.
Iran sendiri menyebut penarikan itu sebagai kemenangan bagi "poros perlawanan" yang terdiri atas kelompok-kelompok bersenjata sekutunya. Korps Garda Revolusi Islam juga menyerukan warga Amerika agar tidak lagi memilih sekutu Trump di Kongres, menurut Reuters.
Pensiunan jenderal Angkatan Darat Irak Mohammed al-Jubouri mempertanyakan apakah lembaga keamanan Irak sudah menyiapkan rencana cadangan untuk fase pascakoalisi. Menurut dia, salah satu skenario terburuk adalah ISIS memperoleh drone bersenjata ketika Irak masih kekurangan pertahanan udara. Selama ini, pasukan AS memasok intelijen, pengintaian udara, dan pemantauan pergerakan ISIS bagi aparat Irak, tulis Reuters.
Kurdistan Kehilangan Payung Pertahanan Udara
Menurut pejabat Kurdi yang dikutip SOFX, unit AS menarik baterai rudal Patriot dan sistem pencegat roket jarak pendek C-RAM dari Pangkalan Udara Harir dan Erbil. Otoritas Kurdi mencatat hampir 1.000 drone dan rudal telah diluncurkan Iran serta faksi Irak yang berpihak kepadanya ke Wilayah Kurdistan sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari.
"Penarikan sistem pertahanan udara ini pasti akan membuat kami berisiko," kata Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan Masrour Barzani, seperti dikutip SOFX. Pada 28 September, Dinas Kontraterorisme Irak menewaskan dua terduga pelaku bom bunuh diri ISIS di Altun Kupri, utara Kirkuk.
Sementara itu, tenggat pelucutan senjata milisi yang didukung Iran diundurkan hingga 30 Juni 2027. Washington berencana mempertahankan konsulatnya di Erbil dan mengarahkan hubungan ke kerja sama ekonomi serta pertahanan bilateral. Irak juga menetapkan libur empat hari bertajuk Hari Kedaulatan pada 30 September hingga 3 Oktober, menurut SOFX.
Comments
0