New York — Para pemimpin perusahaan kecerdasan buatan terkemuka mendesak Dewan Keamanan PBB agar dunia segera membangun pengawasan global, karena mereka menilai risiko AI bisa mengancam seluruh umat manusia.
CEO Anthropic Dario Amodei mengatakan kepada anggota dewan pada Rabu, jika dikelola dengan buruk, AI bahkan bisa menjadi risiko bagi kemanusiaan secara keseluruhan. CEO OpenAI Sam Altman menyampaikan kekhawatiran serupa: umat manusia bisa kehilangan kendali atas masa depan AI.
Sidang yang digelar Prancis itu bertepatan dengan Sidang Umum PBB di New York. Altman dan Amodei meminta para pemimpin dunia bertindak. Jika AI ingin demokratis, keputusan terpenting tidak boleh hanya dibuat laboratorium di San Francisco, kata Altman. Keputusan itu harus dibentuk melalui proses demokratis dan pemerintah yang bertanggung jawab kepada rakyat.
Desakan industri dan respons negara
Keprihatinan itu didukung sejumlah perwakilan dewan, termasuk menteri luar negeri Prancis dan Inggris, yang menilai komunitas internasional perlu menyusun kerangka bersama untuk mengendalikan teknologi.
CEO Hugging Face Clement Delangue mengatakan perusahaannya belakangan diserang oleh model AI yang lepas kendali — kejadian yang dipakai perusahaan lain sebagai bukti perlunya langkah keselamatan lebih ketat. Delangue menambahkan, Hugging Face sempat mengandalkan model AI China untuk bertahan karena pembatasannya lebih longgar dibanding alat AS yang sebanding. Kami diserang oleh AI, tetapi yang lebih penting, kami membela diri dengan AI, ujarnya.
AS dan China enggan batasi
Di Amerika Serikat, pemerintahan Presiden Donald Trump menolak pagar baru bagi industri. Perwakilan AS Michael Kratsios menyatakan Washington sama sekali menolak upaya badan internasional menegakkan kontrol terpusat dan tata kelola global atas AI.
Presiden China Xi Jinping diperkirakan membahas regulasi AI selama kunjungan ke Washington minggu ini. Kedua negara sedang berlomba mengembangkan AI yang lebih kuat — kompetisi yang menurut ahli membuat keduanya kurang cenderung segera memasang pembatasan besar.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya menegaskan masa depan AI tidak boleh diputuskan segelintir negara atau diserahkan pada kehendak beberapa miliarder. Pakar AI Kanada Yoshua Bengio, salah satu ketua Independent International Scientific Panel on AI, memperingatkan dewan bahwa bahaya itu nyata dan segera: ancaman yang tidak bisa dikendalikan sendirian dan tidak menghormati batas negara.
Sumber: Al Jazeera; AP; Reuters
Comments
0