Peringatan tiga tahun peristiwa 7 Oktober 2023 ramai diperbincangkan warganet Indonesia di Instagram. Sebagian pengguna bahkan menyebut tanggal itu sebagai "Hari Pahlawan Internasional", sebuah sebutan yang mencerminkan pandangan mereka tentang perjuangan rakyat Palestina dan perang di Gaza yang menyusul sesudahnya.
Berdasarkan tangkapan layar yang diterima redaksi, akun @gen.saladin dan @ceritaedgar membuat unggahan kolaborasi berjudul "7 Oktober 2023; Salah Satu Hari Terbaik di 100 Tahun Terakhir Kisah Umat Islam... 3 tahun perjuangan. Masihkah kau ingat?" Unggahan itu kemudian dibagikan ulang lewat fitur story oleh akun @riqsyahfellyfalata dengan tulisan "Hari pahlawan Internasional." Redaksi belum memverifikasi unggahan dan komentar tersebut secara mandiri di luar tangkapan layar itu.
Komentar Warganet di Kolom Unggahan
Di kolom komentar, sejumlah warganet menyampaikan pandangan mereka. Akun @wildanmembaca menulis "hari yang membangunkan kesadaran umat muslim abad ini". Akun @hafidzud1n4 bertanya "Ga ada aksi kah hari ini?"
Akun @_triastuti07 menulis "1 kota mengubah segalanya...", sementara akun @rizkitaputri berkomentar "Masih ingat dan inshaaAllah akan selalu ingat. Bismillah".
Ungkapan-ungkapan itu merupakan pandangan pribadi para pemilik akun, bukan sikap redaksi. Dari komentar-komentar tersebut, tanggal 7 Oktober tampak dimaknai para pemilik akun sebagai momen kebangkitan kesadaran dan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina, sekaligus pengingat atas penderitaan warga Gaza dalam tiga tahun terakhir.
Peristiwa 7 Oktober 2023 sendiri adalah serangan yang dipimpin Hamas ke wilayah selatan Israel. Menurut BBC dan kantor berita AP, sekitar 1.200 orang tewas dalam serangan itu dan 251 orang dibawa sebagai sandera. BBC melaporkan para penyerang menyerbu pangkalan militer dan sejumlah kibbutz, membakar rumah, dan membunuh warga sipil. AP mencatat Hamas menggambarkan serangan itu sebagai respons atas puluhan tahun pendudukan militer Israel, perampasan tanah, dan pembangunan permukiman.
Gaza Setelah Tiga Tahun
Serangan balasan Israel ke Gaza kemudian memicu krisis kemanusiaan yang belum berakhir hingga kini. Menurut kantor berita Palestina WAFA, korban tewas di Jalur Gaza hingga 6 Oktober 2026 mencapai 74.245 orang, dengan 175.267 orang terluka. Al Jazeera, mengutip Kementerian Kesehatan Palestina, mencatat sedikitnya 21.000 di antara korban tewas adalah anak-anak, atau secara keseluruhan sekitar satu dari setiap 30 penduduk Gaza.
AP melaporkan angka kementerian yang merupakan bagian dari pemerintahan Hamas itu dinilai umumnya dapat diandalkan oleh badan-badan PBB dan para ahli independen. Menurut AP, sekitar separuh korban adalah perempuan dan anak-anak.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 juga belum menghentikan jatuhnya korban. Al Jazeera mencatat, mengutip Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 1.460 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata berlaku. Analisis Al Jazeera menemukan Israel menyerang Gaza pada 325 dari 361 hari terakhir. Militer Israel, seperti dikutip BBC, menyatakan pihaknya bertindak secara presisi untuk menyingkirkan ancaman sesuai kesepakatan.
Menurut AP, sebagian besar dari sekitar 2 juta penduduk Gaza kini tinggal di kamp-kamp tenda yang kumuh, dengan sebagian besar kota hancur menjadi puing. Pembatasan masuknya barang dan bantuan, tulis AP, turut memicu krisis kelaparan yang parah. Bagi warganet yang meramaikan unggahan itu, angka-angka inilah yang membuat tanggal 7 Oktober terus diingat, seperti kata akun @rizkitaputri, "akan selalu ingat."
Comments
0