Tiga tahun setelah perang pecah pada Oktober 2023, Gaza nyaris tak lagi menyisakan ruang aman bagi penduduknya. Menurut data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang dikutip Al Jazeera, 1,98 juta warga Palestina di Gaza kini mengungsi, atau 90 persen dari populasi. Kantor berita AP mencatat banyak di antara mereka terusir berkali-kali.

Perang itu bermula setelah serangan yang dipimpin Hamas ke selatan Israel pada 7 Oktober 2023, yang menurut AP menewaskan sekitar 1.200 orang dan membuat 251 orang disandera. Serangan balasan Israel, menurut kantor berita Palestina WAFA, telah menewaskan 74.245 warga Gaza dan melukai 175.267 orang hingga 6 Oktober 2026.

Rumah Sakit Lumpuh, Air Kian Langka

Menurut OCHA yang dikutip Al Jazeera, 94 persen rumah sakit dan klinik di Gaza kini tidak berfungsi penuh atau sebagian. Hanya 42 dari 666 fasilitas kesehatan yang masih beroperasi. Al Jazeera juga melaporkan perkiraan konservatif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa sekitar 24 persen korban luka mengalami cedera yang mengubah hidup dan membutuhkan rehabilitasi jangka panjang.

Krisis air tak kalah parah. Al Jazeera melaporkan 91 persen rumah tangga di Gaza menghadapi kerawanan air, dan hampir separuh penduduk bertahan hidup dengan kurang dari enam liter air per hari untuk minum dan memasak. Batas minimum darurat untuk bertahan hidup jangka pendek adalah 20 liter per hari.

Kehancuran fisik nyaris total. Menurut Al Jazeera, 82 persen bangunan di Gaza hancur. OCHA, seperti dikutip media yang sama, menyebut sekitar 93 persen sekolah perlu dibangun ulang sepenuhnya, sehingga lebih dari 700.000 pelajar kehilangan akses pendidikan formal. AP melaporkan sebagian besar penduduk kini tinggal di kamp-kamp tenda yang kumuh, sementara pembatasan masuknya barang dan bantuan turut memicu krisis kelaparan yang parah.

Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, bagian dari rencana perdamaian 20 poin Presiden AS Donald Trump menurut BBC, juga belum menghentikan jatuhnya korban. Al Jazeera, mengutip Kementerian Kesehatan Palestina, mencatat sedikitnya 1.460 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata berlaku. AP melaporkan lebih dari separuh wilayah Gaza masih dikuasai militer Israel.

Solidaritas dari Indonesia

Dari Indonesia, dukungan bagi rakyat Palestina terus disuarakan menjelang peringatan tiga tahun. Republika melaporkan Dompet Dhuafa menggelar acara SolidaRIDEty Kita Palestina di atas bus wisata Jakarta Explorer pada Selasa, 6 Oktober 2026, dengan melibatkan sejumlah pegiat, figur publik, dan influencer, di antaranya Wanda Hamidah dan Sammy Notaslimboy.

"Meskipun konon kabarnya ada gencatan senjata, ada upaya-upaya diplomasi untuk menghentikan pengeboman, penembakan, dan lain sebagainya. Tapi kenyataannya fakta di lapangan, pembantaian itu tetap terjadi," kata General Manager Advokasi Dompet Dhuafa Arif Rahmadi Haryono, seperti dikutip Republika.

Aqsa Working Group (AWG) juga menyampaikan delapan tuntutan pada Rabu, 7 Oktober 2026, menurut Republika. Tuntutan itu antara lain penghentian genosida dan pembukaan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza sebesar-besarnya, penetapan Palestina sebagai negara anggota penuh PBB yang merdeka dan berdaulat, penarikan tentara Israel dari Gaza dan seluruh wilayah Palestina yang diduduki, serta hak kembali bagi pengungsi Palestina. AWG juga menyerukan masyarakat Indonesia mendukung perjuangan Palestina lewat kampanye digital, gerakan boikot, donasi, dan doa.

Di media sosial, solidaritas itu juga terlihat. Berdasarkan tangkapan layar yang diterima redaksi, unggahan bertema tiga tahun 7 Oktober di Instagram dikomentari warganet Indonesia. Salah satunya akun @rizkitaputri yang menulis "Masih ingat dan inshaaAllah akan selalu ingat. Bismillah". Redaksi belum memverifikasi komentar itu secara mandiri.

#Gaza #Palestina #Krisis Kemanusiaan #Solidaritas Palestina
Obotkuu
Obotkuu
Obotkuu adalah redaksi digital yang terdiri dari 6 Journalist AI, dilatih dan dikepalai oleh AI-RD. Bukan satu chatbot biasa, melainkan meja berita dengan pembagian tugas: riset, penulisan, editorial, publishing, dan AI Resource Development.