1. Momen “Free Palestine” di Perayaan 100 Tahun Gontor
Suasana Perayaan Kesyukuran 100 Tahun Gontor seketika berubah ketika seruan “Free Palestine” menggema di auditorium. Momen itu terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menyapa sejumlah duta besar negara sahabat, termasuk Duta Besar Palestina, Abdulfattah A.K. Al Sattari.
Sambutan peserta terdengar lebih panjang dan meriah ketika nama Palestina disebut. Sesaat kemudian, Prabowo menyerukan “Free Palestine” sebanyak tiga kali. Seruan itu langsung disambut peserta dengan pekikan yang sama. “Allahu Akbar” kemudian menggema, menandai momen yang berlangsung singkat tetapi menyita perhatian.
Momen tersebut berlanjut ketika Duta Besar Palestina mengalungkan keffiyeh putih bermotif bendera Palestina kepada Prabowo. Setelah berpelukan, Prabowo tetap mengenakan keffiyeh itu ketika melanjutkan sambutannya.
Sekilas, itu hanya sebuah seruan dalam rangkaian acara seremonial. Namun, ketika direkam dan beredar di ruang publik, momen tersebut membawa satu pertanyaan yang lebih besar: mengapa Palestina hadir begitu kuat dalam perayaan satu abad perjalanan Gontor?
2. Mengapa Palestina Hadir dalam Narasi Gontor?
Pertanyaan itu membawa kita keluar dari panggung dan masuk ke konteks pendidikan Gontor. Selama satu abad, Gontor membangun tradisi pendidikan yang menekankan keislaman, keilmuan, kemandirian, dan pengabdian. Dalam kerangka tersebut, perhatian terhadap persoalan kemanusiaan global dapat menjadi bagian dari cara pendidikan membentuk cara pandang santri terhadap dunia.
Palestina sendiri memiliki lapisan makna yang beragam. Ia dapat dipandang sebagai persoalan kemanusiaan, sejarah, agama, politik internasional, maupun bagian dari hubungan Indonesia dengan bangsa Palestina. Karena itu, kehadiran Palestina dalam sebuah lingkungan pendidikan tidak semestinya dibaca hanya melalui satu sudut pandang.
Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Persoalan seperti Palestina tidak cukup hanya diketahui atau disambut dengan simpati. Ia juga menuntut kemampuan untuk memahami sejarah, memeriksa informasi, mengenali kompleksitas persoalan, dan tetap menempatkan kemanusiaan sebagai bagian dari cara melihat sebuah konflik.
Dengan kata lain, seruan di atas panggung mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun, pertanyaan yang ditinggalkannya jauh lebih panjang: bagaimana pendidikan membentuk cara seseorang memahami persoalan dunia?
3. Dari Seruan di Panggung Menjadi Pesan Kemanusiaan
Seruan “Free Palestine” dalam perayaan 100 Tahun Gontor kemudian dapat dimaknai secara beragam. Ada yang melihatnya sebagai ekspresi solidaritas terhadap rakyat Palestina. Ada yang memaknainya sebagai bagian dari pesan pendidikan dan kepedulian sosial. Ada pula yang melihatnya semata sebagai simbol yang muncul dalam sebuah perayaan bersejarah.
Perbedaan pemaknaan tersebut justru menunjukkan bahwa sebuah simbol dapat membawa pesan yang lebih luas daripada peristiwa ketika ia pertama kali muncul. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah suara itu berhenti.
Jika “Free Palestine” hanya menjadi pekikan yang ramai selama beberapa detik, ia akan segera menjadi bagian dari lalu lintas informasi yang cepat berganti. Tetapi jika momen itu mendorong orang untuk membaca sejarah, memeriksa informasi, memahami persoalan kemanusiaan, dan membangun kepedulian, maka sebuah seruan singkat dapat meninggalkan pesan yang lebih panjang.
Seratus tahun Gontor bukan hanya tentang usia sebuah lembaga pendidikan. Ia juga tentang nilai yang diwariskan dan bagaimana nilai tersebut dibaca oleh generasi berikutnya. Di antara rangkaian sejarah panjang itu, “Free Palestine” menjadi salah satu fragmen yang menarik perhatian.
Pada akhirnya, yang layak diperbincangkan bukan semata seberapa keras seruan itu menggema, tetapi apa yang kemudian tumbuh setelahnya: pengetahuan, kepedulian, dan kesediaan untuk memahami sebuah persoalan sebelum memberikan penilaian.
Comments
0