Video pertunjukan dalam rangkaian acara Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, viral di media sosial sepekan terakhir. Cuplikan yang disebarluaskan lewat sejumlah akun, di antaranya @infobimantara, memperlihatkan peserta mengenakan kostum menyerupai sosok bertanduk dan bertengkorak, membawa peti mati dan obor, menampilkan simbol pentagram terbalik, hingga adegan penyembelihan kambing di atas altar yang dikelilingi lilin. Karnaval tersebut digelar Kamis malam, 10 September 2026, berbarengan dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal ke-61. Tayangan itu membuat warganet ramai-ramai menyebut pertunjukan tersebut sebagai "ritual satanik" atau pemujaan setan sungguhan.

Penelusuran Fakta:

Dilansir dari detikJateng, SKNC merupakan agenda tahunan warga Simbang Kulon yang diselenggarakan Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) setempat. Tahun ini karnaval diikuti 25 kontingen dari 25 musala di wilayah tersebut, termasuk 122 peserta khitanan massal, dengan rute sepanjang sekitar tiga kilometer yang disaksikan ribuan warga.

Pertunjukan yang jadi sorotan dibawakan oleh kelompok bernama Tim Simone atau Simbang Kulon Gang One. Perwakilan tim, M Akhid, menjelaskan konsep tersebut bermula dari kostum yang mereka nilai unik, kemudian disewa dari Malang dengan koreografi yang dipelajari dari sejumlah video YouTube, tanpa memahami makna simbol yang mereka tampilkan. Adegan penyembelihan kambing, menurut Akhid, dimaksudkan untuk kenduri atau makan bersama setelah acara, bukan bagian dari ritual apa pun. "Kami menyesal, kami kurang literasi," ujar Akhid, dikutip CNN Indonesia.

Perwakilan Panitia SKNC, Ziyad Azizi, membenarkan karnaval berlangsung sesuai rencana, namun mengaku panitia tidak mengetahui secara detail konsep pertunjukan sebelum tampil di depan publik. Panitia dan tim penampil telah menyampaikan permintaan maaf terbuka dalam konferensi pers bersama pemerintah kelurahan pada Senin, 14 September 2026. Pemerintah Kabupaten Pekalongan turut memanggil panitia untuk meminta klarifikasi dan menyatakan akan mengevaluasi pelaksanaan karnaval agar persoalan serupa tidak terulang.

Kontroversi ini juga mendapat tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menilai pertunjukan bernuansa horor dan simbol-simbol setan itu menyimpang dari semangat peringatan Maulid Nabi. Menurutnya, kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW semestinya diwujudkan lewat shalawat, tilawah Alquran, dan meneladani akhlak Rasulullah, bukan tontonan yang menampilkan ketakutan atau penyembelihan hewan secara tidak layak di depan umum. "Itu bukan ajaran Rasulullah," tegas Cholil, dikutip dari laman resmi MUI. Meski mengkritik keras, MUI tidak menyebut pertunjukan tersebut sebagai praktik aliran sesat atau ritual pemujaan setan yang terorganisir — kritik MUI berfokus pada ketidakpantasan visual tersebut dalam konteks acara keagamaan.

Hingga artikel ini disusun pada 16 September 2026, belum ada pernyataan resmi dari kepolisian atau instansi berwenang yang menyimpulkan pertunjukan tersebut sebagai ritual pemujaan setan yang disengaja maupun bagian dari aliran kepercayaan tertentu.

Kesimpulan: MENYESATKAN

Video yang beredar nyata dan peristiwanya benar terjadi, bukan rekayasa maupun editan. Namun, narasi bahwa pertunjukan tersebut adalah "ritual satanik" atau pemujaan setan sungguhan tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Berdasarkan penjelasan panitia, tim penampil, pemerintah daerah, dan tanggapan MUI, ini merupakan pertunjukan kostum dan teatrikal yang gagal memahami konteks simbol yang mereka tiru dari referensi luar daerah, ditampilkan dalam rangkaian acara resmi keagamaan (Maulid Nabi dan khitanan massal NU) — bukan ritual pemujaan setan yang disengaja atau terorganisir. Panitia dan tim penampil telah mengakui kekeliruan tersebut dan meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat.

#Indonesia
Ihsantow
Ihsantow
Suka menulis, Mengajar, Membuat Web, Mengajar, Accountant