Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyesakkan warga Kalimantan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes), seperti dilaporkan Antara pada 22 September 2026, mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sejak 18 Agustus hingga 21 September 2026. Sebanyak 40.363 kasus di antaranya dialami balita. Angka itu berasal dari tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti menyebut sebagian besar pasien sudah pulih. "Dan untuk hari ini ada 4.533, jadi yang sisanya sudah sembuh atau sehat kembali," ujarnya di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Selasa (22/9/2026), seperti dikutip RRI.
Sementara itu, kabut dari Kalimantan terus melintasi batas negara hingga akhir pekan lalu.
Singapura dan Sarawak Masih Diselimuti Kabut
Di Singapura, Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam masuk kategori tidak sehat di wilayah tengah, barat, dan timur pada Minggu pagi (27/9/2026). Malay Mail, mengutip AsiaOne, melaporkan PSI pukul 09.00 berkisar 90 hingga 130, dengan angka tertinggi 130 di Singapura bagian tengah. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) menyebut kabut asap sedang hingga pekat dari kebakaran di Kalimantan terbawa ke Singapura, sementara kepulan asap juga terpantau dari kebakaran di Sumatera bagian selatan.
Hujan badai pada Minggu sore sempat menurunkan PSI ke level sedang. Pada Senin (28/9/2026) pukul 08.00, PSI berada di kisaran 62 hingga 77, menurut AsiaOne. Namun NEA masih memperkirakan PSI 24 jam berada di rentang sedang hingga tidak sehat rendah karena angin dari arah tenggara dapat membawa asap dari Kalimantan dan Sumatera bagian selatan.
Di Sarawak, Malaysia, Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (NREB) Sarawak menilai kabut kali ini sebagian besar bersifat lintas batas. Pengendali Mutu Lingkungan NREB, Datuk Jack Liam, kepada Sarawak Tribune menyebut 24.457 titik panas telah terdeteksi di Kalimantan, dibandingkan 374 titik di Sarawak. Pada 23 September, Indeks Pencemar Udara (API) di Kanowit mencapai 212, kategori sangat tidak sehat.
Pada hari yang sama, Jabatan Pendidikan Sarawak menutup sementara 108 sekolah di Distrik Serian mulai 24 September setelah API melewati 201, dan kegiatan belajar dialihkan ke rumah. Portal APIMS mencatat API Serian 217 pada Rabu malam, menurut Bernama yang dikutip The Star. Hingga Senin pagi (28/9/2026), Departemen Lingkungan Malaysia mencatat Serian sebagai satu-satunya lokasi di Malaysia dengan udara tidak sehat, dengan API 152.
Angka Masyarakat Sipil dan Data Resmi Pemerintah
Besarnya dampak asap juga tergambar dari angka yang dirilis masyarakat sipil. Koalisi yang melibatkan Greenpeace Indonesia, YLBHI, Trend Asia, Auriga, dan Walhi, dalam siaran pers 6 September 2026 yang mengutip analisis Greenpeace Indonesia, memperkirakan sekitar 37,9 juta orang di delapan provinsi terdampak karhutla gambut dalam sebulan hingga 31 Agustus 2026. Angka ini merupakan estimasi masyarakat sipil, bukan data resmi.
Angka resmi pemerintah jauh lebih kecil. Juru Bicara Kemenkes Widyawati menyebut data hingga 9 September 2026 mencatat 12.517.488 warga terdampak di tujuh provinsi. Dari jumlah itu, 324 orang mengalami luka berat atau rawat inap, 23 orang luka ringan, dan 4 orang meninggal dunia, masing-masing 3 di Kalimantan Tengah dan 1 di Kalimantan Barat, menurut NU Online, Katadata, dan BBC News Indonesia.
Pemerintah belum merilis hitungan resmi kerugian materi. Center for Economic and Law Studies (Celios), seperti dikutip BBC News Indonesia, memperkirakan kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat karhutla sepanjang Januari hingga Agustus 2026 menembus Rp123,1 triliun.
Api juga belum sepenuhnya padam. Kepala BNPB Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (23/9/2026) bahwa masih ada 209,78 hektare lahan yang terus dipadamkan, dengan Kalimantan Selatan sebagai wilayah terluas. Ia juga mengakui hujan buatan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat tidak bisa dilaksanakan secara maksimal karena asap yang cukup tebal.
Comments
0