Analisis citra satelit yang dilakukan oleh Al Jazeera mengungkap bahwa Israel tetap menghancurkan puluhan rumah di Rafah, Gaza, meskipun telah menyepakati gencatan senjata dengan Hamas sejak 19 Januari 2025.
Citra satelit yang diambil antara 19 Januari hingga 1 Februari menunjukkan bahwa militer Israel terus melakukan konstruksi di wilayah perbatasan, termasuk membangun benteng pasir dan pos militer baru. Selain itu, 64 bangunan di Rafah dihancurkan, serta enam rumah di Tal as-Sultan yang berada sekitar 750 meter dari perbatasan Mesir.
Tindakan Israel ini dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional. Menurut pakar pertahanan Palestina, Hamze Attar, penghancuran rumah warga sipil merupakan kejahatan perang berdasarkan Konvensi Jenewa keempat.
Selain itu, meskipun dalam kesepakatan gencatan senjata Israel harus menarik pasukannya secara bertahap hingga hari ke-50, kenyataannya militer Israel tetap melakukan operasi penghancuran dan penembakan terhadap warga yang mencoba kembali ke rumah mereka.
Di tengah situasi ini, warga Gaza masih mengalami krisis kemanusiaan. Israel juga dituding tidak mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah yang cukup, seperti makanan, bahan bakar, dan tempat tinggal darurat.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata berlaku, sedikitnya 118 orang telah tewas akibat serangan Israel, sisa-sisa amunisi yang tidak meledak, atau luka fatal yang sebelumnya diderita.
Comments
0